Detik-detik Tentara Israel Tendang Pria yang Sedang Sholat

Halo... Teman Teman semua.. bagaimana kabarnya hari ini ? mudah mudahan semua nya sehat ya... aamiin, ok kali ini KHT akan memberikan sebuah informasi mengenai " Detik-detik Tentara Israel Tendang Pria yang Sedang Sholat", Silahkan baca selengkapnya dibawah ini ya.. Dan Jangan Lupa Di Share ya..


Rekaman berdurasi 45 detik menampilkan peristiwa kejamnya tentara Israel. Di video tersebut, pria yang sedang menjalankan sholat di tengah jalan menuju Masjid Al Aqsa, ditendang.

Menurut laporan Malaysia News Hub, rekaman itu diambil ketika pertempuran yang terjadi di luar area Masjid Al Aqsa. Tayangan video itu disiarkan stasiun televisi internasional Al Jazeera pada Jumat, 21 Juli 2017 .

Kerusuhan itu terjadi karena tindakan Israel tidak mengizinkan umat Islam berusia di bawah usia 50 tahun sholat di dalam Masjid Al Aqsa.

Video itu memicu kemarahan publik dan warganet di dunia. Pengguna media sosial juga mengutuk perbuatan biadab tentara Israel itu.

Menurut laporan, tiga orang meninggal dunia dalam pertempuran antara warga Palestina dan Israel itu.

Rabu lalu, Imam masjid Al-Aqsa, Sheikh Ikrima Sabri cedera ditembak dengan peluru karet oleh rezim zionis ketika beliau sedang shalat di luar pintu pagar masjid tersebut. (ism)


Kekerasan Israel di Al Aqsa, Erdogan: Negara Muslim Tak Diam

Presiden Turki, Recep Tayip Erdogan, menyatakan negara-negara Islam tidak akan tinggal diam pada pelanggaran yang dilakukan Israel di Masjidil Aqsa. Erdogan mendesak militer Israel untuk menghindari kekerasan dan bertindak sesuai hukum internasional.

" Al Aqsa tidak hanya milik warga Palestina, tapi juga dihormati dan merupakan tempat suci bagi 1,7 miliar Muslim di seluruh dunia," kata Erdogan, dilansir Daily Sabah.

Erdogan menegaskan sesuai pertemuan para petinggi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Israel harus patuh pada hukum internasional dan menghormati nilai-nilai dasar kemanusian.

" Saya garis bawahi sekali lagi (Israel) harus menghindari kekerasan. Itu akan semakin meningkatkan ketegangan," kata Erdogan.

Selanjutnya, Erdogan mengatakan Turki akan terus bekerja mewujudkan kedamaian di kawasan Yerusalem dan mendukung perjuangan kemerdekaan dan keadilan Palestina.

Dia mengatakan tindakan Israel tidak tepat ditujukan bagi warga Muslim. Erdogan pun mengaku prihatin atas insiden yang baru terjadi.

" Dunia Islam tidak bisa lagi diharapkan untuk tidak responsif terhadap pembatasan Al Aqsa dan penghinaan terhadap kehormatan umat Islam," kata Erdogan.

Erdogan telah menghubungi Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Presiden Israel Reuven Rivlin pada Sabtu pekan lalu membahas persoalan yang terjadi di Masjidil Aqsa. Dia juga telah menghubungi koleganya, Presiden Prancis, Emanuel Macron.

Gelombang protes meledak di Jerusalem pada Minggu kemarin, setelah Imam Masjidil Aqsa menentang pemasangan alat pendeteksi logam.

Erdogan kini tengah menghimpun dukungan dengan mengunjungi sejumlah negara anggota OKI. Dia berkunjung ke sejumlah negara kawasan Timur Tengah, di antaranya Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar.

Erdogan pun mendesak agar negara-negara Timur Tengah mengakhiri ketegangan dengan Qatar dan meminta mereka kembali memusatkan perhatian kepada masalah yang terjadi di Masjidil Aqsa.



Konflik Al Aqsa, Menlu Retno Telepon Menlu AS

Pemerintah Indonesia terus mengupayakan dukungan internasional kepada Palestina. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia ialah mendesak Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan Dewan Keamanan PBB untuk segera bersidang membahas krisis di Masjid Al Aqsa.

“ Dewan Keamanan PBB dan OKI harus secepatnya bersidang untuk segera menghentikan tindakan Israel di Masjidil Aqsha,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin, 24 Juli 2017.

Lukman meminta semua pihak agar menahan diri karena kesucian Masjid Al Aqsa harus dihindarkan dari segala bentuk tindak kekerasa.

“ Siapapun harus terjamin haknya untuk beribadah di rumah ibadah. Tak boleh ada larangan terkait hal itu,” kata dia.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Retno Marsudi terus mengupayakan tekanan diplomatis. Melalui sambungan telepon pada Sabu, 22 Juli 2017, Retno meminta Menlu Amerika Serikat Rex Tillerson, agar mendesak Israel menghentikan pembatasan beribadah dan tindakan kekerasan di Masjid Al Aqsa.

Dalam keterangan tertulisnya, Retno mengaku sangat khawatir dengan semakin memburuknya situasi di kompleks Masjid Al-Aqsa.

Sebab, dari serangan terakhir yang terjadi, tiga orang pemuda Palestina meninggal dunia. Dia menegaskan pentingnya agar segera mengambil langkah agar eskalasi kekerasan dan ketegangan dapat dihentikan.

" Penurunan eskalasi penting sekali dilakukan untuk mencegah situasi semakin memburuk," kata Retno.

Dalam pembicaraan telepon tersebut, Menlu AS juga menyampaikan kekhawatiran yang sama terhadap situasi di Kompleks Masjid Al-Aqsa. Menlu AS menyampaikan kalau pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan Yordania, Palestina, dan Israel.

Menurut Retno, Rex mengaku sepakat dengan Indonesia mengenai pentingnya mencegah meningkatnya eskalasi di Kompleks Masjid Al Aqsa. Rex menegaskan status quo terkait status kompleks Masjid Al-Aqsa juga penting untuk tetap dipelihara.

Retno telah berkomunikasi secara intensif dengan Menlu Yordania, Palestina, Turki, dan Sekjen OKI agar situasi di Kompleks Al Aqsa tidak memburuk dan kegiatan beribadah dapat segera dipulihkan. (ism)

Israel Pasang Kamera Pemantau di Gerbang Masjidil Aqsa

Bentrokan antara militer Israel dengan warga Muslim Palestina terus terjadi, usai penutupan Masjidil Aqsa pada Jumat, 14 Juli lalu. Sedikitnya, tiga warga sipil Palestina meninggal dalam bentrokan tersebut.

Bentrokan dipicu pemasangan alat pendeteksi logam di Lions' Gate (Gerbang Singa) oleh militer Israel. Pemasangan alat itu diprotes keras oleh warga sipil Palestina.

Usai sepekan bentrok, militer Israel sejak kemarin memasang kamera pemantau di gerbang tersebut. Israel berdalih meningkatkan keamanan.

Kamera tersebut dipasang di samping alat pendeteksi logam di gerbang menuju kompleks suci Masjidil Aqsa, yang dikenal dengan Haram Al Sharif oleh umat Islam dan Kuil Bukit oleh umat Yahudi.

Para pemimpin agama menuduh Israel ingin memperluas kendali atas kompleks suci Yerusalem itu, yang selama ini dikelola oleh umat Islam.

Pada Jumat pekan lalu, 21 Juli 2017, tiga orang warga Muslim Palestina dilaporkan meninggal akibat bentrok dengan militer Israel di depan komplek Masjidil Aqsa.

Insiden itu memicu Presiden Palestina Mahmoud Abbas membekukan sementara hubungandiplomatik dengan Israel. Abbas menegaskan pembekuan akan terus terjadi hingga alat pendeteksi logam tidak lagi dipasang.

Hal itu juga menyangkut penghentian koordinasi keamanan antara militer Palestina di Tepi Barat dengan tentara Israel.

" Ketika kami mengambil keputusan ini, kami mengambil sikap tegas, terutama terkait persoalan keamanan," kata Abbas, seperti dilaporkan kantor berita Palestina, Wafa.

Menteri Pertahanan Israel, Avigdor Lieberman, mengatakan koordinasi keamanan lebih bermanfaat bagi Palestina. Dia pun menegaskan Israel dapat mengelola keamanan sendiri tanpa harus melibatkan militer Palestina.

" Kami tidak akan mengikuti mereka," kata Lieberman.

Keputusan memasang alat pendeteksi logam di lokasi paling sensitif tersebut ternyata menimbulkan perdebatan di internal Israel. Sejumlah komentar menyebut pemasangan alat itu merupakan keputusan terburu-buru dan tanpa konsultasi dengan dewan keamanan dalam negeri.

Mayor Jenderal Yoav Mordechai, yang merupakan kepala badan pertahanan Israel untuk urusan Palestina, mengatakan bahwa Israel membuka alternatif penyelesaian untuk menurunkan tensi ketegangan yang terjadi.

" Satu-satunya hal yang kami inginkan adalah memastikan tidak ada satupun orang bersenjata bisa kembali masuk dan menimbulkan serangan lain," kata Mordechai.



" Kami akan menggunakan pendeteksi logam sebagai solusi alternatif sejauh untuk memastikan tidak adanya serangan di waktu mendatang," terang dia.

Sumber: ABC News | Associated Press | Wafa

0 Response to "Detik-detik Tentara Israel Tendang Pria yang Sedang Sholat"

Posting Komentar